Tuesday, 15 April 2014

Jatuh karena Sombongkah?

"Jatuh"
Satu kata yang sangat simpel namun memiliki berjuta makna didalamnya. Sedih, pengorbanan, perjuangan dan airmata menjadi bagian dari makna kata tersebut.

Roda itu berputar, tak selamanya berada dibawah dan tak selamanya juga berada diatas.
Ada masa dimana kita merasa dunia ini hanya milik kita seorang, yang lain ngontrak dan ada juga masa dimana dunia ini terlalu kejam dan tak berpihak pada kita.

Saya terkadang prihatin melihat kondisi dimana jika seseorang sedang senang dan bahagia, ia mengekspresikannya dengan terlalu berlebihan. Ia berlagak seolah-olah hanya dia manusia yang paling bahagia dimuka bumi ini dan tidak pernah membayangkan posisi teman-temannya yang lain. Ia tidak peduli dengan perasaan orang lain yang melihat perilakunya tersebut. Jika sesosok manusia yang sedang lebay mengekspresikan kebahagiaannya di facebook dengan mengupdate status "Terima kasih Tuhan, hari ini Engkau baik sekali kepadaku, Engkau berikan aku rezeki yang berlebih sehingga aku bisa makan makanan yang enak di Pizz* ***, hangout bersama teman-teman di Star****, aku bahagia sekali"
Apa yang ia pikirkan? Jika ada teman mereka yang jangankan untuk hangout bersama teman-teman, untuk makan sehari-hari saja harus berhemat agar bisa cukup.

Saya rasa, manusia yang beriman dan berakal sehat tidak semestinya berdoa, bersyukur, mengeluh, mengekspresikan kebahagiaan secara berlebihan atau bahkan sampai mengumpat di media sosial. Cukup interaksi langsung kepada Tuhan dengan ibadah.
Kali ini saya akan memberikan contoh bukti bahwa Tuhan membalas perilaku orang sombong yang selalu menampakkan kelebihannya di media sosial.

PR adalah anak dari seorang direktur utama sebuah bank negeri disuatu kota. Nampaknya sang ayah baru saja diangkat menjadi direktur, sehingga semua anak-anaknya dibelikan berbagai gedget mahal terbaru, termasuk mobil baru. Rumahnya pun tak sesederhana dulu.
Ternyata sang anak menjadikan rezeki tersebut bukan untuk kebaikan malah sibuk pamer di media sosial miliknya, termasuk ibunya. Ibu PR sering membeli perhiasan dan barang-barang mewah. Awalnya semua teman-teman PR merasa senang dengan perubahan tersebut, ada yang memuji bahkan mengatakan selamat kepadanya.
Namun lama-kelamaan tingkah laku PR semakin meresahkan karena dari foto-foto yang diunggahnya tidak ada satupun yang lepas dari harta kekayaan sang ayah.

Tak lama kemudian sang Ayah jatuh sakit karena faktor usia yang sudah tua, maklum saja PR adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Sehingga jarak umurnya terbilang agak jauh.
Awalnya hanya kelelahan saja, namun karena usia ayahnya tak lagi muda sehingga perlu waktu yang agak lama untuk kembali sehat. Karena itulah sang ayah terpaksa pensiun dini sebelum waktunya.
Keluarga itu tak lagi menjadi keluarga yang kaya raya. Sang ayah telah pensiun, dan penghasilannya tak sebesar dulu. Tak ada lagi yang bisa dipamerkan oleh PR di sosia media. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari keluarga PR ini. Berhati-hati dalam bertindak karena bisa saja orang-orang yang melihat kesombongan kita itu, jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam mereka meminta agar Tuhan menegur kita, salah satu caranya mungkin seperti cerita saya barusan.
Terima Kasih ^^

No comments:

Post a Comment